Selasa, 05 Juli 2016

Sekolah Lagi





     Tadinya saya bermaksud menjadikan judul tulisan ini untuk tulisan diatas. Namun setelah dipikir-pikir rasanya agak kurang cocok, hingga akhirnya saya coba buat isi tulisan yang sesuai dengan judul 'Sekolah Lagi'. Masih agak berhubungan dengan tulisan sebelumnya, menyangkut dunia pendidikan (saya).
     Sempat terpikir untuk melanjutkan S2 saat akhir masa kuliah S1. Tapi... IP saya sangat 'memprihatinkan' kalau angka IP 'minimal' itu dijadikan patokan melamar kerja atau mencari beasiswa. Padahal IP saya yah begitu lah. Tidak ada selembar daun pun di bumi yang terlepas dari dahannya tanpa seiijin Allah. Berarti kalau sejarah yang terjadi adalah begitu lulus, tepatnya menjelang lulus S1 saya menikah dan ditetapkan untuk lekas punya anak, sehingga saya memang belum pernah mencicipi dunia kerja apalagi melanjutkan sekolah, itu juga atas ijin Allah kan? #bukan ngeles#
     Sampai hari ini kadang masih ada perasaan ingin sekolah lagi, sekolah formal maksudnya. Daftar, mungkin ada ujian masuk, belajar dengan jadwal tertentu, ada ujian, ujian akhir, wisuda dan ijazah tentunya. Kalau kesempatan itu ada, sekolah macam apa yang ingin saya masuki? S1 dengan bidang ilmu yang berbeda atau melanjutkan S2? Kalau S2, apakah masih berhubungan dengan arsitektur atau tidak ada hubungannya sama sekali? Kalau bisa S2 mau di Indonesia atau di luar negeri? (bercita-cita tinggi kan gratis)
      Kalau sudah mendapat kesempatan bisa menyelesaikan S2 kelak, akan digunakan untuk apa ilmu yang sudah saya dapatkan? Ibu saya lulus S2 saat anak pertama saya lahir, kira-kira 11 tahun yang lalu. Saya ingat sekali adegan ibu saya menggendong bayi mas sulung sambil bekerja didepan laptopnya, salut buat beliau. Setelah lulus, ibu saya bekerja sama dengan beberapa temannya mendirikan konsultan dibidang IT atau informasi teknologi. Seiring waktu bertambahnya usia dan pasti menurunnya stamina, saat ini ibu saya mengurangi pekerjaan sebagai konsultan dan kembali menjadi dosen di sebuah PTS. Pekerjaan yang sempat dilakukan saat kami masih anak-anak dan ditinggalkan sementara saat menjadi konsultan.
     Semakin bertambah usia dan pengalaman dalam hidup, saya seperti mendapat pencerahan baru. Ilmu itu harus bermanfaat minimal buat saya sendiri, lingkup keluarga dan masyarakat tentunya. Ilmu juga harus disampaikan pada orang lain, tidak bisa disimpan sendiri, apalagi khawatir orang yang diajarkan malah jadi lebih pintar daripada kita yang sudah mengajarkan. Rasanya terlalu picik memang berpikir seperti itu. Saat membagi ilmu (yang baik) disanalah terbuka kran pahala yang akan terus mengalir tiada henti hingga kita mati, insya Allah.
     Saya masih belum tahu apakah saya benar-benar ingin melanjutkan sekolah (formal). Kalau ada kesempatan dan rizki, tentu saja saya tidak ingin menolak. Kalau pun bukan bersekolah formal, untuk saat ini jalan mencari ilmu terasa sangat terbuka lebar. Tanpa harus meninggalkan rumah, universitas terbuka baik di Indonesia apalagi diluar negeri juga tidak sedikit. Mau yang gratisan pun bejibun. Jelas harus selektif dalam memilah dan memilih. Yang sifatnya kursus, berbayar atau gratis banyak. Ingin menambah wawasan (APA SAJA !) tak terhitung jumlahnya. Video kuliah umum topik tertentu yang bisa didapat lewat you tube, akses perpustakaan nasional maupun internasional. Kalau begini saya bersyukur dan memandang era cyber sebagai hal positif.
     Apa saja ilmu yang ingin dicari, bergelar atau tidak, punya ijazah atau tidak, yang berat adalah menjadikan ilmu yang dimiliki bermanfaat hingga menjadi berkah, barokah mengundang pahala dan keridhoan Allah. Yang jelas saat menuntut ilmu itu kita tidak lalai terhadap tugas-tugas utama sesuai prioritas dan lingkungan terdekat kita pun harus bisa merasakan keberkahan ilmu yang sedang ditimba.

gambar diambil dari www.sascs.org

# (utang day 18) - 26 April 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar