Tadinya saya bermaksud menjadikan judul
tulisan ini untuk tulisan diatas. Namun setelah dipikir-pikir rasanya agak
kurang cocok, hingga akhirnya saya coba buat isi tulisan yang sesuai dengan
judul 'Sekolah Lagi'. Masih agak berhubungan dengan tulisan sebelumnya,
menyangkut dunia pendidikan (saya).
Sempat terpikir untuk melanjutkan S2 saat
akhir masa kuliah S1. Tapi... IP saya sangat 'memprihatinkan' kalau angka IP
'minimal' itu dijadikan patokan melamar kerja atau mencari beasiswa. Padahal IP
saya yah begitu lah. Tidak ada selembar daun pun di bumi yang terlepas dari
dahannya tanpa seiijin Allah. Berarti kalau sejarah yang terjadi adalah begitu
lulus, tepatnya menjelang lulus S1 saya menikah dan ditetapkan untuk lekas
punya anak, sehingga saya memang belum pernah mencicipi dunia kerja apalagi
melanjutkan sekolah, itu juga atas ijin Allah kan? #bukan ngeles#
Sampai hari ini kadang masih ada perasaan
ingin sekolah lagi, sekolah formal maksudnya. Daftar, mungkin ada ujian masuk,
belajar dengan jadwal tertentu, ada ujian, ujian akhir, wisuda dan ijazah
tentunya. Kalau kesempatan itu ada, sekolah macam apa yang ingin saya masuki?
S1 dengan bidang ilmu yang berbeda atau melanjutkan S2? Kalau S2, apakah masih
berhubungan dengan arsitektur atau tidak ada hubungannya sama sekali? Kalau
bisa S2 mau di Indonesia atau di luar negeri? (bercita-cita tinggi kan gratis)
Kalau sudah mendapat kesempatan bisa
menyelesaikan S2 kelak, akan digunakan untuk apa ilmu yang sudah saya dapatkan?
Ibu saya lulus S2 saat anak pertama saya lahir, kira-kira 11 tahun yang lalu.
Saya ingat sekali adegan ibu saya menggendong bayi mas sulung sambil bekerja
didepan laptopnya, salut buat beliau. Setelah lulus, ibu saya bekerja sama
dengan beberapa temannya mendirikan konsultan dibidang IT atau informasi
teknologi. Seiring waktu bertambahnya usia dan pasti menurunnya stamina, saat
ini ibu saya mengurangi pekerjaan sebagai konsultan dan kembali menjadi dosen
di sebuah PTS. Pekerjaan yang sempat dilakukan saat kami masih anak-anak dan
ditinggalkan sementara saat menjadi konsultan.
Semakin bertambah usia dan pengalaman
dalam hidup, saya seperti mendapat pencerahan baru. Ilmu itu harus bermanfaat
minimal buat saya sendiri, lingkup keluarga dan masyarakat tentunya. Ilmu juga
harus disampaikan pada orang lain, tidak bisa disimpan sendiri, apalagi
khawatir orang yang diajarkan malah jadi lebih pintar daripada kita yang sudah
mengajarkan. Rasanya terlalu picik memang berpikir seperti itu. Saat membagi
ilmu (yang baik) disanalah terbuka kran pahala yang akan terus mengalir tiada
henti hingga kita mati, insya Allah.
Saya masih belum tahu apakah saya
benar-benar ingin melanjutkan sekolah (formal). Kalau ada kesempatan dan rizki,
tentu saja saya tidak ingin menolak. Kalau pun bukan bersekolah formal, untuk
saat ini jalan mencari ilmu terasa sangat terbuka lebar. Tanpa harus
meninggalkan rumah, universitas terbuka baik di Indonesia apalagi diluar negeri
juga tidak sedikit. Mau yang gratisan pun bejibun. Jelas harus selektif dalam
memilah dan memilih. Yang sifatnya kursus, berbayar atau gratis banyak. Ingin
menambah wawasan (APA SAJA !) tak terhitung jumlahnya. Video kuliah umum topik
tertentu yang bisa didapat lewat you tube, akses perpustakaan nasional maupun
internasional. Kalau begini saya bersyukur dan memandang era cyber sebagai hal
positif.
Apa saja ilmu yang ingin dicari, bergelar
atau tidak, punya ijazah atau tidak, yang berat adalah menjadikan ilmu yang
dimiliki bermanfaat hingga menjadi berkah, barokah mengundang pahala dan
keridhoan Allah. Yang jelas saat menuntut ilmu itu kita tidak lalai terhadap
tugas-tugas utama sesuai prioritas dan lingkungan terdekat kita pun harus bisa
merasakan keberkahan ilmu yang sedang ditimba.
gambar diambil dari www.sascs.org
# (utang day 18) - 26
April 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar